informasi -kesehatan40

Jumat, 20 Juli 2007

KONSTIPASI

FISIOLOGI KOLON

Makanan biasa memerlukan waktu 2-5 hari untuk menempuh ujung saluran pencernaan yang satu ke yang lainnya. 2-6 jam di lambung, 6-8 jam di usus halus, dan sisa waktunya di usus besar.


KOMPOSISI FESES

KOMPONEN

PRESENTASE DARI BERAT TOTAL %

Air

75

Bahan padat

25


Presentase bahan padat total

Selulosa dan serat tidak tercerna lainnya

Veriable

Bakteri

30

Bahan organik (sebagian besar kalsium dan fosfat)

15

Lemak dan turunan lemak

5


Juga sel-sel mukosa yang mengalami deskuamaci, mukus dan sejumlah kecil enzim pencernaan


FLATUS

Gas-gas dapat masuk ke saluran pencernaan dari 3 sumber:

  1. Udara yang tertelan

  2. Gas-gas yang di bentuk sebagai akibat kerja bakteri

  3. Gas-gas yang berdifusi dari darah masuk saluran pencernaan


Sebagian besar gas dalam lambung adalah nitrogen dan O2 yang berasal dari udara yang tertelan dan sebagian besar gas-gas tersebut dikeluarkan dengan bertahap.hanya sebagian kecil gas-gas ini biasanya terdapat dalam usus halusdan pada dasarnya terdiri dari udara yang masuk dari lambung ke usus.

Dalam usus besar lebih banyak gas-gas berasala dari kerja bakteri, gas ini meliputi: CO2, metana, dan hidrogen. Bila metana dan hidrogen yang sesuai bercampur bersama O2 dari udara yang di telan kadang-kadang terbentuk campuran yang sebenarnya eksplosit.

Makanan yang diketahui menyebabkan flatus yang lebih banyak dari usus besar di bandingkan makanan lain (kacang, kol, bawang, kembang kol, jagung, dan makanan pengiritasi T3 seperti cuka). Sebagian makanan tersebut, misalnya kacang, merupakan medium yang cocok untuk bakteri pembentuk gas, khususnya. Karena dia mengandung jenis karbohidrat yang dapat kurang di serap


SUBSTANSI YANG BERPERAN DALAM KOLON

mukus, kalium bikarbonat, dan enzim


GERAKAN PENCAMPURAN PADA KOLON

  • Pergerakan segmentasi seperti usus halus

  • Kontraksi gabungan otot polos sirkular dan longitudinal menyebabkan bagian usus besar yang tidak terangsang menonjol ke luar seperti kantung yang disebut: haustrasi

  • Kontraksinya lamban sehingga feses dalam usus besar diaduk dan diputar dengan lamban, pergerakanya mirip orang menyekop tanah


PERGERAKAN KOLON

fungsi kolon:

  • Mengasorbsi air dan elektrolit dari kimus hingga tersisa 80-150 cc

  • Menyimpan feses sampai dapat keluar

  • Setengah proksimal kolon untuk absorbsi

  • Setengah distal : penyimpanan

  • Pergerakan yang kuat untuk fungsi-fungsi tersebut tidak di perlukan sehingga pergerakan pada keadaan normal lamban


Pergerakan pendorong {mass movement}

  • Gel peristaltik yang sejenis dengan usus halus tidak terdapat pada kolon

  • sebagai gantinya: gerakan: mass movement; gerakan yang mendorong feses ke arah anus

  • gerakan hanya beberapa kali sehari

  • rangkain peristiwa mass movememnt


RANGKAIAN PERISTIWA MASS MOVEMENT

Pertama kontraksi terjadi pada kolon yang teregang/iritasi....... waktu 30 dtk

segera setelah itu 20 cm dari bagian distal kolon yang berkontraksi, berkontraksi hampir sebagai satu kesatuan mendorong feses pada segmen ini secara keseluruhan menuruni kolon

bila mass movement mendorong feses ke rektum maka timbul keinginan untuk defekasi




  1. jelaskan pengaruh psikososial/stress terhadap fungsi usus besar?


JAWAB:

FAKTOR PSIKOLOGIS

Hampir semua faktor sistem tubuh dipengaruhi oleh stress dan emosi. Jika individu itu cemas, takut atau merah, respon stress diasoasikan rangsangan dari bagian parasimpatik dari sistem saraf otonom. Respon ini mengizinkan tubuh untuk mempertahankanya. Proses pencernaan dipercepat dan peristaltik ditingkatkan untuk menyediakan nutrisi yang dibutuhkan untuk pertahanan. Efek samping dari peningkatan peristaltik adalah diare dan mengeluarkan gas. Jika seseorang depresi, maka sistem saraf otonom menurunkan implus, dan peristaltik dapat berkurang. Jumlah dari penyakit saluran G1 diassosiasikan dengan stress. Ini termasuk radang usus besar, borok lambung, dan penyakit kronis.

Bila eliminasi anak dapat diganggu oleh cara toilet training, memaksa anak untuk mempelajari toilet training sebelum sistem saraf dan ototnya berkembang adalah sia-sia. Menghukum anak untuk kecelakaan membuat toilet training ini stress



  1. Bagaimana pengaruh makanan dan minuman terhadap proses pembentukan feses dan defekasi?


JAWAB:

DIET

Diet atau pola atau jenis makanan yang di konsumsi dapat mempengaruhi proses defekasi. Makanan yang memiliki kandungan serat tinggi dapat membantu proses percepatan defekasi dan jumlah yang di konsumsi pun dapat mempengaruhinya


ASUPAN CAIRAN

Pemasukan cairan yang kurang dalam tbuh membuat defekasi menjadi keras oleh karna proses absorspsi kurang sehingga dapat mempengaruhi kesulitan proses defekasi



  1. Bagaimana pengaruh aktivitas dan isirahat terhadap fungsi kolon?


JAWAB:

AKTIVITAS

Aktivitas dapat mempengaruhi proses defekasi karena melalui aktivitas tonus otot abdomen, pelvis, dan diafragma dapat membantu kelancaran proses defekasi, sehingga proses gerakan peristaltik pada daerah kolon dapat bertambah baik dan memudahkan dalam membantu proses kelancaran defekasi



  1. Bagaimana pengaruh obat-obatan terhadap fungsi kolon?


JAWAB:

PENGOBATAN

Pengobatan dapat mempengaruhi proses defekasi, seperti penggunanan laksansia atau antasida yang terlalau sering



  1. Berapa frekuensi peristaltik normal? Berapa frekuensi defekasi normal? Jelaskan apa yang di maksud dengan konstipasi, obstipasi dan diare?


JAWAB:

Pola defekasi dan keluhan selama defekasi

Pengkajian ini antara lain: Bagaimana pola defekasi dan keluhannya selama defekasi. Secara normal, frekuensi buang air besar pada bayi sebanyak 4-6 kali/hari, sedangkan orang dewasa adalah 2-3 kali/hari dengan jumlah rata-rata pembuangan per hari adalah 150 gram

Konstipasi

Konstipasi merupakan keadaan individu yang mengalami atau beresiko tinggi mengalami statis usus besar sehingga menimbulkan eleminasi yang jarang atau keras, atau keluarnya tinja terlalu kering dan keras.

DIARE

Diare merupakan keadaan individu yang mengalami atau beresiko sering mengalami pengeluaran feses dalam bentuk cair. Diare sering disertai dengan kejang usus, mungkin disertai oleh rasa mual dan muntah.



  1. Jelaskan pengkajian untuk eliminasi feses? (meliputi fokus yang di kaji, tahapan pemeriksaan fisik abdomen dll)


JAWAB:

PENGKAJIAN KEPERAWATAN

1. Pola defekasi dan keluhan selama defekasi

Pengkajian ini antara lain: Bagaimana pola defekasi dan keluhannya selama defekasi. Secara normal, frekuensi buang air besar pada bayi sebanyak 4-6 kali/hari, sedangkan orang dewasa adalah 2-3 kali/hari dengan jumlah rata-rata pembuangan per hari adalah 150 gram


2. Keadaan feses. Meliputi

No

KEADAAN

NORMAL

ABNORMAL

PENYEBAB

1

WARNA

BAYI: KUNING

Putih, hitam/tar, atau merah

Kurangnya kadar empedu, perdarahan saluran cerna bagian atas, atau perdarahan saluran cerna bagian bawah.



Dewasa: coklat

Pucat berlemak

Mal absorbsi lemak

2

Bau

Khas feses dan dipengaruhi oleh makanan

Amis dan perubahan bau

Darah dan infeksi

3

Konsistensi

Lunak dan berbentuk

Cair

Diare dan absorbsi kurang

4

Bentuk

Sesuai diameter rektum

Kecil, bentuknya seperti pensil

Obstruksi dan peristaltik yang cepat

5

Konstituen

Makanan yang tidak di cerna, bakteri yang mati, lemak, pigmen empedu, mukosa usus, dan air.

Darah, pus, benda asing, mukus, atau cacing.

Internal bleeding, infeksi, tertelan benda, iritasi, atau inflamasi


3. Faktor yang mempengaruhi eliminasi alvi

Faktor yang mempengaruhi eliminasi alvi antara lain perilaku atau kebiasaan defekasi, diet ( makanan yang mempengaruhi defekasi ), makanan yang biasa dimakan, makanan yang dihindari dan pola makan yang teratur atau tidak, cairan ( jumlah dan jenis minuman/hari ), aktivitas ( kegiatan sehari-hari ), penggunaan obat, kegiatan yang spesifik, stres, pembedahan/penyakit menetap, dll


4. Pemeriksaan Fisik

Meliputi keadaan abdomen seperti ada atau tidaknya distensi, simetris atau tidak, gerakan peristaltik, adanya massa pada perut, dan tenderness. Kemudian, pemeriksaan rektum dan anus dinilai dari ada atau tidaknya inflamasi, seperti perubahan warna, lesi, dan massa




  1. sebutkan masalah keperawatan yang sering muncul terkait dengan sistem eliminasi alvi, diagnosa keperawatan, intervensi yang terkait


JAWAB:

DAIGNOSIS KEPERAWATAN

a. Konstipasi hubungan dengan:

  • Defek persarafan, kelemahan pelvis, imobilitas akibat cedera medula spinalis, dan CVA

  • Penurunan respon berdefekasi

  • Nyeri akibat hemoroid

  • Efek samping tindakan pengobatan ( antasida, laksantif, anaestasi )

  • Menurunnya peristaltik akibat stress


b. Konstipasi kolonik berhubungan dengan:

  • Defek persarafan, kelemahan otot dasar pinggul, imobilitas akibat cedera medula spinalis, dan CVA

  • Penurunan laju metabolisme akibat hipertiroidime atau hiperparatiroidsme

  • Efek samping tindakan pengobatan ( antasida, laksantif, anaestasi )

  • Menurunnya peristaltik akibat stress


c. Konstipasi dirasakan berhubungan dengan:

  • Penilaian salah akibat penyimpangan susunan saraf pusat, depresi, kelainan obsesif Kompulsif

  • Kurangnya informasi akibat keyakinan budaya


d. Diare berhubungan dengan:

  • Mal absorpsi atau inflamasi akibat penyakit infeksi atau gastritis, ulkus, dan lain-lain

  • Peningkatan peristaltik akibat peningkatan metabolisme

  • Proses infeksi

  • Efek samping tindakan pengobatan ( antasida atau antibiotik )

  • Stress psikologis


e. Inkontinensia usus berhubungan dengan:

  • Gangguan sfingter rektal akibat cedera rektum atau tindakan pembedahan

  • Kurangnya kontrol pada sfinter akibat cedera medula spinalis, CVA., dll

  • Distensi rektum akibat konstipasi kronis

  • Kerusakan kognitif

  • Ketidakmampuan mengenal atau merespon proses defekasi akibat depresi


f. Kurangnya volume cairan berhubungan dengan pengeluaran cairan yang berlebihan



PERENCANAAN KEPERAWATAN

tujuan:

1. Memahami arti eliminasi secara normal

2. Mempertahankan asupan makanan dan minuman cukup

3. Membantu latihan secara teratur

4. Mempertahankan defekasi secara teratur

5. Mempertahankan defekasi secara normal

6. Mencegah ganguan intergerasi kuilt


RENCANA TINDAKAN

1. Kaji perubahan faktor yang mempengaruhi masalah eliminasi alvi

2. Kurangi faktor yang mempengaruhi terjadinya masalah seperti:

a. Konstipasi secara umum

  • Meningkatkan asupan cairan dengan banyak minum

  • Diet yang seimbang dan makan bahan makanan yang banyak mengandung serat

  • Melakukan latihan fisik, misalnya melatih otot perut

  • Anjurkan untuk tidak memaksakan diri dalam buang air besar

  • Berika obat laksantif, misalnya dulkolax

  • Lakukan huknah


b. Konstipasi akibat nyeri

  • Tingkatkan asupan cairan

  • Diet tinggi serat

  • Tingkatkan latihan setiap hari

  • Berikan pelumas disekitar anus untuk mengurangi nyeri

  • Kompres dingin sekitar anus untuk mengurani rasa gatal

  • Rendam duduk atau mandi di bak dengan air hangat ( 43-46 c, selama 15 menit )

  • Berikan pelunak feses

  • Cegah duduk lama apabila hemoroid, dengan cara berdiri tiap 1 jam kurang lebih 5-10 menit untuk menurunkan tekanan


c. Konstipasi kolonik akibat perubahan gaya hidup

  • Berikan stimulus untuk defekasi, seperti minum kopi atau jus

  • Bantu pasien menggunakan pispot bila memungkinkan

  • Gunakan kamar mandi dari pada pispot bila memungkinkan

  • Ajarkan latihan fisik dengan memberikan ambulasi, latihan rentang gerak, dll

  • Tingkatkan diet tinggi serat seperti buah dan sayuran


d. Inkontinensia usus

  • Pada waktu tertentu, setiap 2/3 jam, letakkan pipot di bawah pasien

  • Berikan latihan buang air besar dan anjurkan pesien untuk selalu berusaha latihan

  • Kalau inkontinensia hebat, diperlukan adanya pakaian dalam yang tahan lembab, supaya pasien dan sprei tidak begitu kotor

  • Pakaiakan laken yang dapat dibuang dan menyenangkan untuk dipakai


3. Jelaskan mengenai eliminasi yang normal kepada pasien

4. Pertahankan asupan makanan dan minuman

5. Bantu defekasi manual

6. Bantu latihan buang air besar, dengan cara:

  1. Kaji pola eliminasi normal dan catat waktu ketika inkontinensia terjadi

  2. Pilih waktu defekasi untuk mengukur kontrolnya

  3. Berikan obat pelunak feses (oral) setiap hari

  4. Anjurkan pasien untuk minum air hangat atau jus buah (minuman yang merangsang peristaltik

  5. Bantu pasien ke toilet

  6. Jaga privasi pasien dan batasi waktu defekasi (15-20 menit)

  7. Instruksikan pasien untuk duduk ditoilet, gunakan tangan untuk menekan perut terus kebawah dan jangan mengedan untuk merangsang pengeluaran feses

  8. Jangan dimarahi ketika pasien tidak mampu defekasi

  9. Anjurkan makan secara teratur dengan asupan air dan serat yang adekuat

  10. Pertahankan latihan secara teratur jika fisik pasien mampu

0 Komentar:

Posting Komentar

komentar anda akan saya hargai sekali

Berlangganan Posting Komentar [Atom]



<< Beranda


Add to Technorati Favorites
Search Engine Optimisation
Search Engine Optimisation
Free Shoutbox Technology Pioneer The current mood of nugroho_hari2003 at www.imood.com