informasi -kesehatan40

Rabu, 25 Juli 2007

DEMAM BERDARAH

pada air saja. Larutan rehidrasi oral, seperti yang digunakan untuk pengobatan penyakit diare, dianjurkan.
Selama fase demam akut terdapat risiko kejang. Anti-piretik dapat diberikan pada pasien dengan hiperpireksia, terutama bagi mereka yang mempunyai riwayat kejang demam. Salisilat harus dihindari karena dapat menyebabkan perdarahan dan asidosis, atau mencetuskan sindrom Reye atau seperti-Reye. Parasetamol lebih dipilih untuk menurunkan demam tetapi harus digunakan dengan kewaspadaan, dengan dosis berikut:
< 1 tahun 60 mg/dosis 1-3 tahun 60-120 mg/dosis 3-6 tahun 120 mg/dosis 6-12 tahun 240 mg/dosis
Dosis harus diberikan bila suhu tubuh lebih tinggi dari 39°C, tetapi tidak lebih dari 6 dosis harus diberikan dalam periode 24 jam.
Pasien harus diobservasi dengan ketat terhadap tanda-tanda syok. Periode kritis adalah transisi dari demam ke fase tidak demam, dimana biasanya terjadi setelah hari ketiga.
' Bila lanitan rehidrasi oral akan diberikan untuk anak-anak dibawah 2 tahun, tambahanjus buah atau air harus diberikan dalam proporsi salu volume tambahan untuk setiap dua volume larutan rehidrasi oral. Larutan rehidrasi oral terdiri alas berikut ini, dilarutkan dalam 1 liter air minum:
  • 3,5 g 2.9 g
  • 1.5 g 20,0 g
Natrium klorida \ Trisodium sistrat dihidrat
atau 2.5 natrium bikarbonat Kalium klorida Glukosa
Ada baiknya memberikan larutan rehidrasi oral dalam jumlah sedikit pada frekuensi tetap (satu sendok teh penuh setiap 1 -2 menit).
Bab 3: Pengobatan

Penentuan hematokrit adalah pedoman penting untuk terapi pada tahap ini, karena pemeriksaan ini secara tidak langsung menunjukkan derajat rembesan plasma dan menunjukkan kebutuhan terhadap cairan intravena. Peningkatan hematokrit harus didahului dengan perubahan tekanan darah dan nadi. Hematokrit harus ditentukan setiap hari dari hari ketiga penyakit sampai demam pasien berkurang selama 1 atau 2 hari. Jika pengukuran hematokrit tidak memungkinkan untuk di-lakukan, mungkin dapat digunakan penghitungan hemoglobin, meski penghitungan ini kurang sensitif.
Terapi cairan parenteral dapat diberikan di unit rehidrasi pasien rawat jalan untuk pasien yang demam, muhtah, atau anoreksianya menimbulkan dehidrasi. Cairan yang digunakan untuk mengatasi dehidrasi dipilih sesuai dengan sifat kehilang-an cairan. Dalam kasus dehidrasi isotonik, harus digunakan glukosa 5% (50 g/1) dilarutkan 1:2 atau 1:1 dalam salin fisio-logis (normal). Larutan mengandung bikarbonat tidak boleh digunakan untuk penatalaksanaan awal dehidrasi intravena dalam DHF, dan harus dicadangkan untuk kasus dimana terjadi kehilangan cairan menetap karena diare. Perlunya penggantian volume cairan ekuivalen dengan jumlah kehilangan cairan dan elektrolit: jadi, 10 ml/kg harus diberikan untuk setiap 1% penurunan berat badan normal. Kebutuhan cairan rumatan, di-hitung berdasarkan formula Halliday & Segar (Tabel 3.1), harus ditambahkan ke dalam penggantian volume cairan. Karena frekuensi rembesan plasma tidak konstan (lebih cepat bila suhu tubuh turun), maka volume dan kecepatan terapi cair­an intravena harus disesuaikan menurut kecepatan dan volume kehilangan plasma. Kehilangan plasma dapat dipantau dengan perubahan hematokrit, tanda-tanda vital, atau volume haluaran urine. Namun, meskipun ada kehilangan plasma masif, peng­gantian cairan secara bijaksana perlu untuk menghindari hidrasi berlebihan.
36
37

1 Komentar:

Posting Komentar

komentar anda akan saya hargai sekali

Berlangganan Posting Komentar [Atom]



<< Beranda


Add to Technorati Favorites
Search Engine Optimisation
Search Engine Optimisation
Free Shoutbox Technology Pioneer The current mood of nugroho_hari2003 at www.imood.com